Teruntuk dia, mereka dan kita..
`Saya... Siapa saya..?` dua kata bermaksud tanya itu terus menghantui kepala saya. Menari-nari dalam benak saya, tidak pernah bisa diam dan membiarkan saya tenang barang sedikit waktu yang saya miliki. Mungkin akan ada yang bertanya `maksud lo apa sih ? Pertanyaan retoris. Ya elo manusia. Manusia yang mempunyai nama. Apa elo udah gila, tanya pertnyaan itu?`
dan saya akan mengiyakan.
Ya. Karena kamu belum mengerti makna dari pertanyaan saya. Bahkan kamu belum membaca sampai tuntas cerita saya, bagaimana kamu bisa kamu mengambil kesimpulan secepat itu..? Kalo kamu belum mengerti artinya.
Inilah ceritaku..
Saya adalah seorang remaja. Kisah hidup saya dibilang normal karena saya tumbuh sebagai layaknya remaja lainnya. Mengalami yang namanya pubertas, bingung menentukan jati diri, mulai merasakan suka, jatuh cinta dan mencintai. Dan tentu akan mengalami bagian yang tak kalah penting meski seperti sepele.
Mengidolakan.
Saya juga mempunya idola. 'dia' yang mampu membuat saya terpikat. Well, karena penampilan fisik. Ya. Itu faktor utama. Apapun alasan kita, apakah kita bisa punkiri kalo sebab utama kita mengidolakan seseorang itu adalah parasnya. Seraut wajah yang mampu mengalihkan perhatian kita. Sebentuk wajah yang dapat memenjarakan mata kita untuk terus dan terus melihatnya. Dan saya akan menjawab tegas. IYA. Itu merupakan alasan saya.
Berlanjut dengan alasan selanjutnya... Kepribadiannya, tingkah laku atau polahnya, cara berbicaranya, dan apapun yang melekat pada sosoknya yang menjadi satu kesatuan utuh sedemikian sempurnanya.
Dan baru saya ketahui. Jika mengidolakan itu ternyata sulit. Lelah dan jengah. Mulai dari pikiran saya dan perasaan saya dikuras habis. Bahkan tenaga jiwa dan raga ikut andil di dalamnya. Ada saatnya saya emosi sampai meluapkan amarah dengan marah-marah tidak jelas. Menangis hanya karena hal sepele yang tidak penting dalam kelanjutan kehisupan saya. Masa depan saya. Kenapa ?? Karena saya menangisi seseorang yang tidak pernah saya kenal secara langsung. Seseorang yang tidak pernah saya temui. Jangankan untuk mengobrol dengan dia, melihat saja saya harus melalui media umum. Aneh. Yah saya terkadang memikirkan itu. Dan nyatanya keanehan itu sangat mengganggu pikiran saya. Pola pikir saya juga menjadi tidak stabil, hingga sebuah julukan tercetus dan ditujukan untuk sikap saya. Julukan 'ababil'. Sebagai remaja yang masih hijau, yang masih awam dengan segala macam tetek bengek kehidupan. Orang yang lebih dewasa akan menyematkan julukan itu pada saya. Dan berkata 'gitu aja lebay. Emang kenal dengan dia ? Ampe nangis. Bela-belain sampe segitunya ? Dapat apa kamu ? Kamu gak capek ? Pikir dengan logika. Jangan ngandelin perasaan?'
dan sampai sekarang saya masih kalah dengan perasaan. Ketimbang logika , hati selalu keluar menjadi juara. Berperan sebagai boss yang memerintahkan seluruh sistem saraf dirubuh saya untuk melaksanakan perintahnya. Memang kadang terlalu cepat. Atau tepatnya terlalu cepat mengambil keputusan tanpa memikirkan matang-matang. Dan akibatnya.. Pasti ada percikan kecewa mencambuk hati saya kemudian.
Lalu saya berpikir. Berpikir dan terus berpikir. Sebegitukah hebatnya pengaruh seorang idola dalam kehidupan saya. Sebegitu agungkah dia sampai bisa membuat saya seprti ini , tanpa mengenalnya. Sekuat itukah pengaruhnya terhadap diri saya?
Well, untuk pertanyaan-pertanyaan itu akan saya jawab. Iya. Karena kenyataannya saya masih terpengaruh. Bagaimana tidak .. Melihat senyumnya saya ikut bahagis. Melihat air matanya saya ikut sedih. Bahkan jantung saya terkadang berdebar keras untuk alasan yang tidak jelas. Yang saya tahu.. Dia menjadi sumber inspirasi saya. Bisa jadi panutan. Entah cara berdandannya , tingkah lakunya, dan gayanya. Sangat amat mempengaruhi perilaku saya. Sampai kadang kata-katanya jadi trend. Karena saya menirunya... Tanpa sadar karena tlah tersugesti.
Sebagai fans.. Saya juga pernah mengalami dilema dan keababilan. Dimana saya harus berdiri di tengah kubu yang sedang berkonfrontasi. Bingung dengan semua spekulasi dan orasi-orasi yang meluncur diantara mereka dan seolah memborbardir pada satu titik. Titik tengah. Dan itu saya. Mata terkadang menipu dan telinga tak jarang menyesatkan. Jika kita tidak jeli.
Berada di masa keababilan adalah ketika saya dengan mudahnya, tanpa mengerti pangkal masalahnya, tanpa mencoba untuk membaca dan mengerti situasi, tanpa berpikir dengan matang dan luas , tanpa bertanya kebenaran pada si objek, lantas saya ikut terjun ke dalamnya. Menjadi orang kepo, sok tahu dan mendaftarkan diri menjadi anggota di salah satu kubu dimana saya melihat sekilas jika kubu itu benar, dengan segala keminiman pengetahuan yang saya tahu. Dan apa akibat ulah saya ?? Semua bertambah berantakan. Malah menjadi hancur berserakan.
Dan akhirnya saya merenung..
Kenapa aku jahat banget jadi orang. Hellooo... Sadar dong. Dia siapa ? Tuhan? Raja ? Atau dewa? Sampe aku mau bersusah payah begini. Korban waktu, tenaga, pikiran, dan perasaan hanya karena seseorang yang tidak aku kenal. Aku punya hak mempunyai idola. Menyukainya dan mencintainya. Tapi aku tidak memiliki hak menjadi hak menjadi hakim. Yang seenak jidat, seebak dengkul ngejudge dia tanpa klarifikasi dulu terhadap orang yang bersangkutan. Dan tindakan saya malah seolah-olah menjadi hakim yang sesuka hati menjatuhinya hukuman. Hukuman telak yang menyudtkannya. Menjorokkan dan menghujamnya. Jika aku jadi dia .. Aku pasti akan begini :
kalian siapa? Ibuku? Ayahku? Kakekku? Nenekku? Tante ? Om dan anggota keluarga aku lainnya. Kalian bukan aku. Kalian bukan Tuhan yang mengetahui segala isi hati dan pikiran saya. Apakah ini adil unntukku? Dengan sesuka hati kalian.. Kalian menilaiku. Tau apa kalian? Tahu isi hatiku ? Pikiranku? Perasaanku? Apa salahku sampai dengan mudahnya kata kritikan..oh bukan ejekan menyakitkan kalian alamtkan padaku. Tanpa tahu , tanpa mengerti. Kalian bukan aku.. Kalian tidak pernah di posisiku. Dimana aku menjalani dua profesi. Sebagai remaja lainnya dan sengai seorang yang harus profesional. Memberi contoh yang baik. Dan harusnya jika sebgai remaja normal seperti kalian.. Aku pasti juga marah. Aku sakit. Apa kalian tahu itu. Heii... Aku juga manusia. Manusia yang dilahirkan dengan takdir berbeda. Tuhan menuliskan aku sebagai seseorang yang tersorot. Seseorang yang diketahui khalayak umum. Dan seseorang yang dituntut mampu mengedalikan emosi, menjaga perilaku. Menjaga image. Agar apa ?? Agar aku bertahan. Demi sapa ? Aku tak perlu menyebutkan yang pastinya untuk pengagumku lainnya.. Yang selalu mendukungku. Aku juga tidak meminta kalian selalu melindungiku. Aku juga kadang jengah, lelah dan bosan. Hingga sisi emosionalku mucul. Entah melalui kata-kata atau tindakan ekstrim. Sebenranya hal yang biasa jika aku bernasib seperti kalian. Tidak tersorot. Tapi sialnya aku selalu diterangi lampu. Kelakuaku yang sebenranya wajar, normal dan sudah sepantasnya menjadi suatu hal yang patut diperdebatkan. Plisss... Berikan aku ruang.. Tolong mengerti keadaanku.
Tiba-tiba aku tersentak. Tersadar dari lamunanku yang mulai liar. Apakah seperti itu perasaannya. Mengapa aku tidak pernah memposisikan diriku di posisi dia ? Mengapa aku egois bermain-main dengan pikiranku-pikiranku yang jahat itu. Bahkan aku belum mendengar suaranya.. Belum tahu sifat aslinya dan keseharian dia. Kenapa aku selalu jadi hakim dan dia jadi terdakwa. Kenapa ?? Kenapa juga aku harus munafik. Kadang hatiku membenrkan. Kadang suara kecil itu berbisik.. Tapi kenapa aku tidak mendengarkannya dan memilih menjdi bagian mereka. Kenapa harus membohongi diri sendiri ? Demi apa ? Demi title yang kusandang. Demi kesepakatan tak kentara yang secara tidak langsung aku tanda tangani ?? Karena lingkungan yang mendesakku. Demi sebuah solidaritas yang sudah terjalin. Sampai terkadang membutakan. Dia yang memang berkata tidak baik... Aku rela menutupinya demi reputasinya. Tapi ketika dia .. Dia yang tidak se-pro dengan kita.. Ketika melakuka hal yang sama kita sudah berkoar-koar untuk menilai, menyudutkan. Dan menganggap itu mainan maenarik untuk keeksistensian. Dan mengatakan perbuatan itu tidak pantas. Hanya karena pola pikir yang sudah terbentuk itu salah. Hanya karena katanya yang katanya dari katanya.. Hanya karena dia tidak sesuai dengan harapan kita. Karena sikap ku yang terkadang over protectif hingga harus mengorbankan orang lain. Dia ya dia .. Aku ya aku. Harusnya aku tidak boleh begini. Membandingkan. Semua orang memiliki sisi sempurnya dan kita memiliki hak untuk mengeluarkan isi hati kita. Tapi harus sesuai ketentuan. Ada batasan dan ada peraturan. Aku mulai instropeksi diri : mungkin kritikan ku itu disalah artika menjadi ejekan atau makian.. Maka dari itu saya harus lebih halus lagi. Mungkin ucapan saya terlalu frontal hingga ada sisi lain yang tersinggung. Kadang tulisan saya bermakna ganda hingga ada orang yang berpikir saya menyindir. Jadi saya memperbaikinya dengan berkata jelas agar disaat menulis itu bertepatan dengan moment tertentu yang nantinya dapat merusak suasana. Ya kalau tidak pasa ada moment penting. Kalau ada... Lagi lagi ada pertumpah darahan.. Saya juga belajar bersikap netral. Dalam artian.. Jika memang saya tidak menyukai dia.. Saya harus bersikap biasa saja. Dia memiliki fans yang akan memperingatinya. Ada keluarganya juga. Tanpa campur tangan saya setidaknya mengurangi kerumitan dan kobaran api. Cukup support tanpa maksud sindiran. Tanpa mengungkit-mngunkit masa lalu dengan kata seandainya dulu, halah.. Dan lain sebagianya. Hidup sudah diatur.. Dulu yang terjadi sudah ada tulisannya, sudah alurnya untuk terjadi begitu. Jika kita menyesali berarti kita menentang kehendakNya. Dia bukan Tuhan yang sempurna... Bukan juga seseorang yang harus di cela sedemikian rupa, dan saya... Saya berasa menjadi orang terkepo tersotoy dengan catatan saya ini. Ya karena saya hanya menuliskan kesimpulan dari perenungan saya. Sejauh saya melihat mendengar merasakan dan melihat. Sejauh saya menilai dari berbagai keadaan, sudut pandang, dan keadaan yang sudah terjadi.
Saya manusia biasa yang penuh keterbatasan dan ketidaktahuan.. Saya menyebut diri saya si pengagum yang belajar bersikap sebagaimana mestinya seorang fans. Bukan menasbihkan diri secara tidak sadar, tidak kenatra dan tidak sadar sebagai haters kasat mata.
Catatan kecil dari seorang yang amat sangat biasa dan kecil truntuk mereka..
INI KARYA BUATAN KIKI ADMIN DI SALAH SATU FACEBOOK, FACEBOOK Pecinta Story. GUE COPAS, EDIT SEDIKIT, DAN POST ULANG DI BLOG PRIBADI GUE, DAN UDAH ADA IZIN DARI ORANG YG BERSANGKUTAN
Tidak ada komentar:
Posting Komentar